header2

MASJID AL HIDAYAH MODERNLAND

Bangunan Masjid Al Hidayah-Jl. Masjid No 1, Kel. Kelapa Indah, Kec. Tangerang.

MASJID AL HIDAYAH MODERNLAND

Kegiatan Masjid Al Hidayah-Jl. Masjid No 1, Kel. Kelapa Indah, Kec. Tangerang

MASJID AL HIDAYAH MODERNLAND

Kegiatan Masjid Al Hidayah-Jl. Masjid No 1, Kel. Kelapa Indah, Kec. Tangerang.

MASJID AL HIDAYAH MODERNLAND

Kegiatan Masjid Al Hidayah-Jl. Masjid No 1, Kel. Kelapa Indah, Kec. Tangerang

MASJID AL HIDAYAH MODERNLAND

Kegiatan Masjid Al Hidayah-Jl. Masjid No 1, Kel. Kelapa Indah, Kec. Tangerang

Kamis, 11 Mei 2017

MENGUSAP WAJAH SETELAH SHALAT

KH Muhyiddin Abdusshomad
Salah satu kebiasaan yang sering kita lihat, setiap selesai mengucapkan salam dalam shalat, umat Islam mengusap wajah dengan kanannya. Hal ini didasarkan satu riwayat bahwa setelah bahwa Rasulullah SAW selalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


عَنِ السَّائِبِ بْنِ يِزِيْدِ عَنْ أَبِيْهِ أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ 
 سنن أبي داود
Dari Saib bin Yazid dari ayahnya, “Apabila Rasulullah SAW berdoa, beliau beliau selallu mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya." (HR Abu Dawud, 1275)

Begitu pula orang yang telah selesai melaksanakan shalat, ia juga disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangannya, sebab shalat secara bahasa berarti berdoa. Di dalam shalat terkandung doa-doa kepada Allah SWT Sang Khaliq. Sehingga orang yang mengerjakan shalat berarti juga sedang berdoa. Maka wajar jika setelah shalat ia juga disunnahkan untuk mengusap muka.

Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin menyatakan: Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar, dan kami juga meriwayatkan hadits dalam kitab Ibnus Sunni dari Sahabat Anas bahwa Rasulullah SAW apabila selesai melaksanakan shalat, beliau mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Lalu berdoa:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اَللَّهُمَّ اذْهَبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ 

Saya bersaksi tiada Tuhan kecuali Dia Dzat Yang maha Pengasih dan penyayang. Ya Allah Hilangkan dariku kebingungan dan kesusahan." (I’anatut Thalibin, juz I, hal 184-185)

Hal ini menjadi bukti bahwa mengusap muka setelah shalat memang dianjurkan dalam Islam. Karena Nabi Muhammad SAW juga mengusap muka setelah shalat.


KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Rais Syuriyah PCNU Jember


Jumat, 28 April 2017

JAM'IYYAH

Malam ini adalah jadwal jami’yahan pertama setelah satu setangah bulan yang lalu libur karena bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sudah menjadi kesepakatan anggota jam’iyah bahwa setelah libur Ramadhan kegiatan jam’iyahan akan dimulai kembali dua minggu setelah lebaran. Dan mengawali dimulainya kegiatan rutin mingguan ini Lek Kirman ketibanjadwal untuk ketempatan.
Tak seperti adatnya dimana para anggota seringkali datang sedikit lebih malam, kali ini saat jam menunjukkan pukul delapan lebih dari dua pertiga dari mereka telah hadir duduk bersila di rumah Lek Kirman. Mungkin karena ini yang pertama dan libur yang cukup lama membuat mereka kangen dengan kegiatan ini.
Di antara mereka juga terlihat beberapa wajah baru yang sebelumnya belum pernah ikut jam’iyahan. Di antaranya ada Mas Kusno yang katanya kini tak lagi berangkat ke Jakarta untuk jualan warteg. Mau buka warung di desa saja, katanya. Juga ada Kang Dukri, pedagang siomay keliling. Mestinya ia sudah sejak lama ingin mengikuti jam’iyahan, namun anak kecilnya yang saat itu belum berumur tiga tahun masih rewel-rewelnya hingga membuat Kang Dukri tak tega membiarkan istrinya sendirian kewalahan mengurusnya. Duduk di pojok sana, di sebelah kanan Pakde Harto, ada Mas Ruslan, pemuda dari Pemalang yang baru seminggu lalu sah menjadi menantu Lek Kapali dan kini menjadi warga kampung Kang Basyir.
Jam di dinding ruang tamu Lek Kirman menunjukkan pukul delapan seperempat malam. Jamaah yang hadir makin banyak. Mas Zaenul, sang pembawa acara, mengedarkan pandangannya. Ia seperti ingin menghitung atau memastikan sudah sebagian besar anggota hadir. Terakhir pandangannya berhenti pada Kang Basyir. Kang Basyir paham arti pandangan itu. Kepada Mas Zaenul ia anggukkan kepala, tanda jam’iyahan bisa dimulai.
Maka… “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…..” dan bla bla bla… Mas Zaenul membuka dan memulai kegiatan malam itu. Didahului dengan pembacaan surat al-fatihah sebagai pembuka, dzikir tahlil dengan bacaan shalawat sebanyak tiga ratus kali[1] yang kali ini dipimpin oleh Mbah Kasanun, lalu makan ketupat bersama dan wedangan sejenak sebelum akhirnya ditutup dengan uraian hikmah oleh Kang Basyir.
“Saya ucapkan selamat datang kepada para sedulur yang baru bergabung di jam’iyah ini.” Kang Basyir menyampaikan setelah sebelumnya menuturkan kalimat-kalimat pembuka.
Dengan kalimat yang runtut dan diucapkan dengan tenang, sambil sesekali mengedarkan pandangannya ke semua yang hadir, ia melanjutkan bicaranya, “Ber-jam’iyahan itu penting. Tidak hanya memberi manfaat ruhaniyah kepada diri kita masing-masing, bersilaturahmi dengan sesama warga, tapi juga berjam’iyahan memberi manfaat mengokohkan negara kita, negara Indonesia, dan juga menjadikan Islam tetap tegak di dunia.”
Sampai di sini beberapa jamaah nampak mengarahkan pandangannya kepada Kang Basyir. Mimik muka mereka menunjukkan ada ketertarikan pada kalimat yang baru saja diucapkan pembina jam’iyah itu.
“Mengaapa saya katakan demikian?” lanjut Kang Basyir dengan nada tanya yang kemudian ia jawab sendiri. “saya teringat sebuah wejangan dari guru saya yang disampaikan sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Saat di pesantren, pada malam Selasa ba’da maghrib setelah kegiatan mujahadah pembacaan shalawatNariyah, Kyai Rozaq, guru saya itu, memberikan informasi begini; bahwa kekuatan Islam di dunia ini ada di Indonesia. Maka bagi mereka yang tak menyukai Islam, untuk menghancurkan Islam di dunia ini bukan dengan menghancurkan negara-negara Arab yang nota bene menjadi basis dan awal mula tumbuhnya Islam, tetapi dengan menghancurkan Indonesia. Negara-negara Timur Tengah boleh saja terjadi banyak konflik, pecah, terjadi perang sesama umat muslim. Tetapi Islam akan tetap berjaya bila Indonesia masih berdiri tegak.
Nah, untuk menghancurkan Indonesia bukan dengan mengirim pasukan perang sebagaimana masa penjajahan dahulu. Tetapi dengan melemahkan dan menghancurkan sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama, NU. Mengapa demikian? Ya, sebab NU adalah kekuatan besar yang membentengi Indonesia. Dalam sejarah telah terbukti bahwa lapisan masyarakat yang gigih melawan penjajah di Indonesia adalah kaum santri yang digerakkan oleh para kyai pengasuh pesantren yang nota bene bersatu dalam organisasi NU.”
Sampai di sini Kang Basyir sejenak berhenti. Ia mengambil gelas berisi air teh yang ada di depannya untuk kemudian sedikit meminumnya. Sementara jamaah yang ada masih menujukkan perhatiannya pada Kang Basyir.
“Lalu bagaimana untuk melemahkan dan menghancurkan NU?” lanjut Kang Basyir, masih dengan kalimat yang tenang dan intonasi yang mantab. “Dengan membubarkannya? Menjadikannya sebagai organisasi terlarang? Tidak. NU bisa saja dan boleh saja dilarang dan dibubarkan. Tetapi selama ruhnya masih hidup jiwa NU tak akan pernah mati. Lalu apa ruhnya NU? Ruhnya NU ada di kegiatan jam’iyahan-jam’iyahan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah-daerah. Jam’iyahan rutinan tiap hari tertentu, tahlilan, tebus weteng, barzanji-nan, diba’-an, haul, manaqiban, dan kegiatan semisal lainnya di situlah ruhnya NU. Selama itu semua masih dilestarikan di Indonesia maka NU akan tetap hidup. Dan selama NU tetap hidup Negara Indonesia akan tetap berdiri dengan kokoh.”
“Itulah sebabnya di awal saya katakan bahwa mengikuti jam’iyahan bukan saja memenuhi kebutuhan ruhaniyah kita tetapi juga ikut dalam usaha tetap kokohnya Negara Indonesia.”
Sebagian jamaah terlihat ada yang menganggukkan kepalanya, mungkin dapat memahami penjelasan Kang Basyir. Sebagian lagi masih pada posisinya. Kang Basyir tak segera melanjutkan kalimatnya. Apa yang barusan disampaikan ia biarkan mengendap lebih dahulu di hati para jamaah untuk dapat dipahami dengan baik.
“Lalu,” lanjutnya, ”apa yang akan dilakukan oleh mereka untuk menghancurkan Islam?”
Lagi-lagi Kang Basyir berhenti sejenak sebelum kemudian menjawab sendiri pertanyaannya.
“Yang akan dilakukan oleh mereka untuk menghancurkan Islam adalah dengan perang akidah. Mereka akan menggunakan sesama umat Islam yang berseberangan pemahaman agamanya dengan umat Islam yang ada di Indonesia sebagai alat untuk memecah belah umat Islam. Melalui akidah umat Islam yang dijadikan alat itu akan menebarkan isu dengan mengatakan bahwa ritual yang selama ini kaprah berjalan di Indonesia adalah amalan-amalan bid’ah yang sama sekali tak ada dasarnya baik dari al-Qur’an maupun hadis. Efek yang akan terjadi dari isu ini adalah terjadinya gesekan di antara umat Islam Indonesia yang tidak dipungkiri pada saatnya nanti akan terjadi bentrok fisik. Bila ini benar-benar terjadi maka goyahlah stabilitas nasional negeri ini, rapuh keamanannya, dan pada akhirnya akan dengan mudah bangsa ini dirobohkan. Dan, bila bangsa Indonesia yang besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini roboh, roboh pula Islam di dunia ini.”
“Bagaimana tidak? Negeri-negeri muslim di Timur Tengah telah dan sedang dilemahkan dengan banyak konflik dan kekacauan. Bila Indonesia yang besar ini juga telah dibuat demikian, di negeri yang mana lagi Islam berdiri kuat?”
Kang Basyir menghentikan kalimatnya. Ia mengambil nafas kuat-kuat untuk kemudian perlahan ia hembuskan. Sejenak suasana hening. Terlihat Pakde Harto mengambil gelas di depannya dan meminumnya beberapa teguk.
“Boleh menyela, Kang?” suara Mas Dayat meminta ijin untuk bicara.
Monggo, silakan,” jawab Kang Basyir.
“Begini, Kang. Bila benar apa yang sampeyan jelaskan itu dari guru sampeyandua puluh lima tahun yang lalu, maka rasa-rasanya hal itu sedang terjadi sekarang ini.”
“Ya, kurasa demikian.” Kang Basyir menimpali cepat. “Saat ini bisa kita lihat sendiri betapa sebagian saudara kita dengan mudahnya menuduh dan menuding-nuding bahwa tahlilan, ratiban, manaqiban, maulidan dan lainnya adalah perbuatan bid’ah, khurafat, syirik, bahkan pelakunya dikafirkan. Ini untuk amalannya. Sedangkan untuk organisasinya bisa kita saksikan betapa NU saat ini sering dikuya-kuya karena ia-lah satu-satunya organisasi keagamaan di Indonesia yang melestarikan amalan-amalan itu. Sikap NU yang menjunjung prinsip tawasuth, tawazun, dan tasamuh dalam banyak hal juga menjadikannya dipandang sebelah mata dan dicemooh mereka yang berseberangan. Bila ini terus terjadi maka bukannya tak mungkin akan terjadi konflik horizontal sesama umat Islam di Indonesia. Dan, terjadilah apa yang sekarang menimpa Timur Tengah.”
“Kang Basyir,” Pakde Harto menyela. “Saya bisa memahami apa yang sampeyansampaikan itu. Tapi satu hal yang ingin saya tanyakan, apa kaitannya jam’iyahan dengan kuatnya Negara Indonesia?”
Kang Basyir tak lekas menjawab. Sejenak ia berdiam kemudian berkata, “Saya sendiri belum pernah menanyakan hal itu kepada guru saya. Namun bila kita mengkaji banyak keterangan dari banyak kitab kurasa akan ada kesimpulan yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan Pakde Harto.”
“Begini. Dalam kegiatan jam’iyahan pada umumnya yang dilakukan oleh jamaahnya adalah berdzikir dengan membaca berbagai kalimat thayibah. Saya ambil contoh shalawat dan istighfar. Dalam banyak kitab dapat kita peroleh keterangan bahwa barang siapa yang membaca shalawat kepada nabi satu kali maka Allah akan memberinya sepuluh rahmat.[2] Bila dalam satu jam’iyahan ada tiga puluh jamaah saja yang masing-masing membaca shalawat seratus kali, itu artinya akan ada tiga puluh ribu rahmat yang diturunkan Allah pada saat itu di daerah itu. Lah, bila pada saat yang bersamaan dalam satu desa ada sekian jam’iyahan, maka berapa ratus ribu atau bahkan berapa juta rahmat yang Allah curahkan di desa itu? Satu rahmat Allah saja sudah sedemikian agung, lah ini ribuan bahkan jutaan? Bila pada saat yang bersamaan pula hal itu terjadi di desa yang lain, di kecamatan, kabupaten, provinsi, dan seluruh Indonesia? Ini baru dalam satu hari atau satu malam. Bila di hari dan malam yang lain juga ada jam’iyahan yang melakukan demikian? Ini juga baru yang dilakukan oleh sekolompok orang yang tergabung dalam jam’iyah, belum bacaan shalawat yang diwiridkan secara rutin oleh orang-orang secara pribadi setiap hari dalam jumlah yang banyak. Belum juga yang diwiridkan oleh para kyai dengan para santrinya di pesantren-pesantren.
Bila setiap hari bangsa ini dicurahi berjuta rahmat Allah, dapat kita bayangkan laksana hujan yang membawa keberkahan, maka suburlah tanahnya, aman tentram kehidupannya, makmur dan sejahtera masyarakatnya. Dan bila kemudian semua itu berhenti karena amalannya dianggap bid’ah yang tak berdasar, keringlah negeri ini, karena sepi dari curahan rahmat kasih sayang Allah.
Ini baru dari satu sisi manfaat shalawat, belum manfaat yang lainnya. Lalu bagaimana dengan istighfar?
Untuk istighfar kurasa cukuplah apa yang dikatakan Allah dalam dua ayat-Nya. Yang pertama, Allah menyatakan bahwa Dia tak akan menurunkan azabnya kepada sebuah kaum selama kaum itu selalu beristghfar meminta ampun kepada Allah.[3] Seperti shalawat yang tadi saya jelaskan, bila setiap hari istighfar ini dibaca ribuan bahkan jutaan kali oleh masyarakat Indonesia secara bergantian, baik dalam jam’iyahan ataupun secara pribadi, bukankah ini akan mencegah datangnya siksa Allah? Bukankah ini berarti menenteramkan hidup dan kehidupan bangsa ini?
Yang kedua, dalam al-Qur’an Allah juga mengajarkan bahwa dengan membaca istighfar maka Allah akan mengirimkan rahmat-Nya dari langit berupa air hujan yang menjadikan bumi ini subur, memberikan limpahan rizki dan generasi, serta menjadikan kebun-kebun dengan banyak buahnya dan sungai yang mengalir untuk memenuhi banyak kebutuhan.[4] Maka, bukankah itu semua yang membuat negeri ini dikenal dengan kalimat gemah ripah loh jenawi tata tentrem karta raharja?”
Ini baru sebagian manfaat dari dua bacaan yang biasa diwiridkan dalam jam’iyahan dan oleh orang per orang secara pribadi. Belum manfaat lain dari kalimat-kalimat lainnya.
Lah, bila semua itu dihentikan? Bila tak ada lagi jam’iyahan? Bila tak ada lagi orang per orang yang merutinkan berwirid di siang dan malam hari karena dianggap bid’ah dan bahkan pelakunya dikafirkan? Sungguh, tak dapat kita bayangkan bila semua manfaat itu dihentikan oleh Allah untuk negeri Indonesia ini.
Maka sekali lagi saya sampaikan, selamat datang kepada para sedulur yang baru saja bergabung di jam’iyahan ini. Selamat bergabung untuk membangun dan mengukuh-kokohkan negeri ini dengan amalan jam’iyahan. Sungguh, ini langkah nyata yang bisa kita berikan untuk negeri dan bangsa kita sendiri, yang juga demi tegaknya agama Islam di dunia ini. Dari pada hanya sekedar membully, mencaci, dan memfitnah para pemimpin negeri, tanpa memberi solusi.”
Kang Basyir mengakhiri uraiannya malam ini. Namun sebelum ia menutupnya dengan salam satu hal lagi yang ia sampaiakan kepada jamaah, “Menurut guru saya, masih ada satu lagi cara mereka merubuhkan Islam di dunia ini. Akan saya sampaikan itu pada kesempatan yang lain. Insya Allah. Wassalaamu ‘alaikum….”
Mas Zaenul mengambil microphone dari tangan Kang Basyir, lalu menutup jam’iyahan malam itu dengan bacaan shalawat; sholluu ‘alan nabi Muhammad!
                                                                   


[1] Menurut Abu Thalib al-Makky paling sedikitnya memperbanyak bacaan shalawat adalah tiga ratus kali. Sedangkan menurut Imam As-Sya’rony tujuh ratus kali pada siang hari dan tujuh ratus kali pada malam hari. Sedangkan ulama lainnya mengatakan tiga ratus lima puluh kali setiap hari dan tiga ratus lima puluh kali setiap malam. (Sa’aadatud Daaroin, Yusuf an-Nabhany, hal. 62.)
[2] Al-Adzkaar, Yahya bin Syaraf an-Nawawy, hal. 128
[3] QS. Al-Anfal: 33
[4] QS. Nuh: 11-12. Tafsir Al-Muniir, Dr. Wahbah Zuhaili, jil. 15, juz. 29, hal. 154

Jumat, 07 April 2017

HIZBUT TAHRIR

Hizbut Tahrir
Oleh : KH. As'ad Said Ali
Mantan Waka BIN & Mantan Waketum PBNU

Boleh dikatakan, awal mula masuknya  gagasan Hizbut Tahrir dilakukan secara tidak sengaja. Adalah Kiai Mama Abdullah bin Nuh, pemilik pesantren AL-Ghazali Bogor mengajak Abdurahman Albagdadi, seorang aktivis Hizbut Tahrir yang tinggal di Australia untuk menetap di Bogor pada sekitar 1982-1983.

Tujuannya semata untuk membantu pengembangan pesantren Al Ghazali. Nah, saat mengajar di pesantren  tersebut, Abdurahman Albagdadi mulai berinteraksi dengan para aktivis masjid kampus dari Mesjid Al-Ghifari, IPB Bogor. Dari sini pemikiran-pemikiran Taqiyuddin mulai didiskusikan. Dibentuk kemudian halaqah-halaqah (pengajian-pengajian kecil) untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan HT. Buku-buku HT seperti Syaksiyah Islamiyah, Fikrul Islam, Nizhom Islam mulai dikaji serius.

Para aktivis kampus inilah yang mulai menyebarkan gagasan HT. Melalui jaringan Lembaga Dakwah Kampus, ajaran HT menyebar ke kampus-kampus di luar Bogor seperti Unpad, IKIP Malang, Unair bahkan hingga keluar Jawa, seperti Unhas.

Satu dekade kemudian, tepatnya pada dekade 1990-an ide-ide dakwah Hizbut Tahrir mulai disampaikan kepada masyarakat umum dengan cara door to door. Tahap pertama, penyampaian dakwah pada orang tua mahasiswa. Kedua, seiring dengan waktu lulusnya para mahasiswa, maka aktivitas dakwah mulai bergerak di perkantoran, pabrik, dan perumahan. Dakwah inipun dilakukan selama satu dekade, hingga dekade 2000-an.

Dakwah Hizbut Tahrir semakin mendapat kesempatan seiring adanya perubahan iklim politik di Indonesia: reformasi. Namun demikian, tidak serta merta Hizbut Tahrir mendeklarasikan dirinya sebagai gerakan Islam yang terbuka. Namun seiring berkembangnya sambutan masyarakat, sebuah konferensi Internasional soal Khilafah Islamiyah kemudian digelar, yaitu pada Maret tahun 2002, di Istora Senayan. Konferensi ini menghadirkan tokoh-tokoh Hizbut Tahrir dari dalam dan luar negeri sebagai pembicara. Di antaranya KH dr Muhammad Utsman, SPFK (Indonesia), Ustadz Ismail Al-Wahwah (Australia), Ustadz Syarifuddin M Zain (Malaysia), dan KH Muhammad Al-Khaththath (Indonesia).

Konferensi tersebut juga menjadi penanda lahirnya organisasi Hizbut Tahrir Indonesia, dan sejak itu mulai memproklamirkan diri sebagai organisasi politik yang berideologikan Islam. Dalam konteks HT, pembentukan partai berarti dicapainya tahap kedua perjuangan yaitu tahap berinteraksi dengan masyarakat (marhalah tafaul ma’ al ummah).

Tujuan Politik

Bertitik tolak dari pandangan Taqiyuddin An-Nabhani bahwa dunia Islam harus terbebas dari segala bentuk penjajahan, maka mendirikan Khilafah Islamiyah menjadi sebuah keharusan. Khilafah yang dimaksud adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin tunggal (khalifah) yang dibai’at oleh umat.

Dengan tujuan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah, maka Hizbut Tahrir telah memproklamirkan dirinya sebagai kelompok politik (parpol), bukan kelompok yang berdasarkan kerohanian semata, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan (akademis) dan bukan pula lembaga sosial. Dengan atas dasar itulah maka seluruh aktivitas yang dilakukan Hizbut Tahrir bersifat politik, baik dalam mendidik dan membina umat, dalam aspek pemikiran dan dalam perjuangan politik.

Adapun alasan mengapa perlu mendirikan khilafah Islamiyah karena semua negeri kaum muslimin dewasa ini, tanpa kecuali, adalah termasuk kategori Darul Kufur, sekalipun penduduknya kaum muslimin. Karena dalam kamus Hizbut Tahrir, yang dimaksud Darul Islam adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam urusan pemerintahan, dan keamanannya berada di tangan kaum muslimin, sekalipun mayoritas penduduknya bukan muslim. Sedangkan Darul Kufur adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur dalam seluruh aspek kehidupan, atau keamanannya bukan di tangan kaum muslimin, sekalipun seluruh penduduknya adalah muslim.

Konteks Ideologi dan Perkembangan di Timur Tengah  

Sesungguhnya, dasar utama gagasan HT adalah seruan untuk  menerapkan Islam secara komprehensif. Kemunduran Islam, kata Taqiyuddin (pendiri gerakan HT), disebabkan oleh ditinggalkannya penerapan Islam secara kaffah. “Kemunduran mulai tampak tatkala mereka meninggalkan dan meremehkan ajaran agama, mengabaikan qiyadah fikriyah” tandas Taqiyuddin pada tahun 1953. Oleh karena itu, untuk membangkitkan kembali keagungan Islam, solusi tunggalnya adalah menerapkan seluruh sistem Islam secara sempurna, tanpa ada kompromi dengan sistem-sistem lainnya.

Usaha revivalisme semacam ini, dalam beberapa segi memang bersesuaian dengan prinsip-prinsip yang dikembangkan gerakan Ikhwanul Muslimun (IM). Kesesuaian ini dapat dilacak dari latar belakang Taqiyuddin di mana pada waktu belajar di Al Azhar, Mesir, Taqiyuddin pernah bergabung dengan jamaah IM. Seperti akan kita lihat nanti, pada periode awal perkembangannya ternyata gerakan HT didukung oleh  para aktivis IM di Palestina.

Namun, IM dan HT mempunyai titik perseberangan yang krusial. Daulah Islamiah yang digagas IM sama sekali tidak memasukkan prinsip kekhilafahan. Bahkan, Daulah Islamiah dimasukkan dalam kerangka nation-state. Pengabaian prinsip ini ditolak Taqiyuddin. Baginya, semangat kembali ke Islam secara total tidak mungkin dilaksanakan tanpa adanya penerapan sistem politik kekhalifahan. Hanya dengan penerapan sistem ini, nilai-nilai Islam dalam diwujudkan dalam masyarakat muslim.

Yang dimaksud sistem kekhalifahan adalah suatu bentuk tunggal negara Islam yang meliputi seluruh wilayah penduduk Muslim (umat) tanpa ada batas nation-state –konsep yang juga ditolakTaqiyuddin karena dianggap sangat lemah. Konsep  yang diacu adalah model kekhalifahan masa Khulafaur Rasyidin, di mana seorang khalifah diangkat melalui mekanisme baiat. Bagi Taqiyuddin, konsep kekhalifahanlah yang mampu dan terbukti  mendorong kejayaan Islam. Oleh karena itu, perjuangan mewujudkan kembali kekhalifahan adalah neccessary condition bagi terwujudnya  masyarakat muslim.

Konsep ini ditawarkan sebagai jawaban dari kemunduran Islam menghadapi penetrasi Barat. Sepintas, tawaran ini terkesan kembali ke masa lalu. Namun, para aktivis HT mampu mengeksplorasi gagasan ini sebagai ideologi perlawanan terhadap kolonialisme ataupun bentuk dominasi Barat lainnya. Tawaran ini menjadi kontekstual karena disebarkan di tengah masyarakat muslim yang merasa kecewa di tengah hegemoni kekuasaan Barat. Gagasan ini makin memperoleh tempat tatkala dihadapkan pada kegagalan eksperimen demokrasi ataupun bentuk negara modern lainnya di mana mayoritas warga negaranya adalah muslim.

Untuk itu, HT mengusung ideologi politik kekhalifahan. Dalam pandangannya, kekhalifahan adalah prototipe sistem pemerintahan Islam yang terbukti operasional selama berabad-abad. Untuk menguatkan gagasan ini, HT mengeksplorasi glorifikasi  atau keagungan sejarah Islam masa kekhalifahan yang dipandang bermula dari Nabi Muhammad dan berakhir dengan keruntuhan Khilafah Usmani di Turki pada tahun 1924.

Gagasan-gagasan HT, sejak awal memang kurang diterima secara luas. Kelompok terbesar yang  menentangnya adalah  para aktivis pembaharuan Islam yang mengadopsi gagasan-gagasan modern, termasuk mereka yang memperjuangkan nasionalisme Arab, mereka yang mengadopsi paham sosialisme dan sebagainya. Kelompok kedua yang resistensinya kurang kuat adalah Ikhwanul Muslimun (IM). Pada mulanya, tokoh-tokoh IM, seperti Hasan Albana dan Sayyid Quthub berusaha merangkul Taqiyuddin an-Nabhani dalam barisan IM. Namun Taqiyuddin menolaknya dengan alasan IM dipandang terlalu moderat, utamanya karena perjuangan IM masih menggunakan kerangka nation-state, bukan kekhalifahan.

Karena itu, sejak awal dideklarasikan pada tahun 1953 di Al Quds (saat itu dibawah yurisdiksi Yordania yang dikuasai Inggris) HT harus berseberangan dengan pemerintahan yang berkuasa dan juga para aktivis nasionalisme Arab.

Pemerintah Yordania segera melarangnya dan melakukan penangkapan terhadap sejumlah pengurus inti, tidak lama setelah partai ini dideklarasikan. Taqiyudin bersama Ustadz Dawud Hamdan ditangkap di al-Quds; sementara Munir Syaqir dan Ghanim Abduh ditangkap di Amman; lalu beberapa hari berikutnya, Dr Abd al-Aziz al-Khiyath juga ditangkap; semuanya dijebloskan ke penjara. Berkat petisi sekelompok wakil rakyat, pengacara, pebisnis, dan sejumlah orang yang memiliki kedudukan, Taqiyuddin kemudian dibebaskan.

Sejak saat itu, HT harus hidup secara underground, menjadi gerakan clandestine di Yordania dan Syria. Pada November 1953, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berpindah ke Damaskus. Saat itu intelijen Syiria membawa Taqiyuddin ke perbatasan Syria-Lebanon. Atas bantuan Mufti Lebanon, Syaikh Hasan al-Alaya, akhirnya beliau diizinkan masuk ke Lebanon yang sebelumnya melarangnya. Taqiyuddin lalu menyebarkan pemikirannya di Lebanon dengan leluasa sampai tahun 1958, yaitu ketika pemerintah Lebanon mulai mempersempit kehidupannya karena merasakan bahaya dari pemikirannya.

Akhirnya, Taqiyuddin berpindah dari Beirut ke Tharablus dan terpaksa mengubah penampilan agar leluasa menjalankan kepemimpinan HT. Sejak itulah, gagasan dan gerakan HT harus disebarkan secara diam-diam. Dan secara diam-diam pula, pengaruhnya mulai menyebar ke kawasan Timur Tengah lainnya, terutama di Syria, Lebanon dan Yordania.

Meskipun demikian, Yordania dan Palestina adalah adalah tempat utama kaderasisasi dan pengembangan HT. Pergolakan Palestina yang tidak ada henti-hentinya menjadi ladang subur persemaian gagasan dan gerakan. Hal ini karena, pertama, Taqiyuddin penggagas dan ketua pertama  HT lebih banyak bergerak di kawasan ini, sehingga memungkinkan untuk selalu melakukan kaderisasi. Kedua, Palestina membutuhkan kerangka ideologi yang lebih kuat guna memperjuangkan pembebasan tanah airnya dari Yahudi. Dalam konteks inilah gagasan dan gerakan HT menemukan ladang persemaiannya. Gerakan ini menawarkan kerangka alternatif yaitu membangun daulah Islamiyah berdasarkan prinsip kekhalifahan. Menolak segala sesuatu yang berbau Barat, termasuk konsep nation-state yang saat itu mulai diimplementasikan di sejumlah negara Timur Tengah. Penolakan ini tampaknya bertemu dengan realitas politik saat itu, di mana sejumlah negara Timur Tengah justru kurang all out dalam membantu perjuangan Palestina.

Tentu saja HT tidak sendirian. Pengaruh gerakan-gerakan Islam lainnya juga cukup berperan dalam meneruskan perlawanan terhadap Israel. Kekuatan Ikhwanul Muslimun umpamanya, tidak mungkin bisa diremehkan dalam memberikan kontribusi semangat jihad di kalangan penduduk Palestina.    

Pengaruh HT ini sudah tampak dalam organisasi PLO. Khaled Hassan adalah salah satu pendiri PLO yang juga pendiri  HT. Begitu Juga Sheh Assad Tamimi, ulama yang sangat dipandang di Palestina. Mereka adalah kader-kader HT yang cukup disegani. Kader utama HT lainnya adalah Sheh Abdul Qodim Zallum. Ulama yang juga berasal dari Palestina ini nantinya mewarisi kepemimpinan HT pasca meninggalnya Taqiyuddin pada tahun 1977. Tokoh penting lainnya adalah Sheh Ahmad Tamimi, tokoh spiritual Palestina. Mereka semua umumnya mengenal terlebih dahulu gagasan-gagasan IM. Namun, selanjutnya lebih memilih mengembangkan gagasan kekhalifahan. Pengaruh HT tersebut cukup terasa di dalam tubuh “Palestinian Islamic Jihad”. Kelompok jihad ini berbasis di Syiria yang didirikan oleh Shiekh Abdullah Ramadan Shallah dan Fathi Shaqaqi. Para aktivis HT umumnya memback-up kelompok ini.

Di samping mengilfiltrasi PLO dan gerakan lainnya, seperti Hisbullah dan Hammas, aktivis HT juga berusaha mempengaruhi sejumlah proses politik di Yordan. HT melakukan penyusupan ke tubuh Angkatan Bersenjata Yordan pada tahun 1969 dalam upaya menggulingkan kekuasaan (kudeta). Namun upaya ini mengalami kegagalan. Hal yang sama dilakukan pada tahun 1971. Penyusupan ke tubuh militer juga dilakukan di Selatan Irak pada tahun 1972. Lagi-lagi, usaha ini mengalami kegagalan.

Sejumlah kudeta dan pembunuhan politik di Mesir, Jurdan, Tunisia, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya pada dekade 1970-an ditengarai melibatkan aktivis HT. Kudeta di Mesir tahun 1974 yang melibatkan Salih Sirriyah dan pembunuhan Anwar Saddat 1984, diduga melibatkan aktivis HT. Begitu juga usaha pembunuhan terhadap raja Husen, Jordan.
Kegagalan berturut-turut dalam sejumlah perebutan kekuasaan tersebut menyebabkan perkembangan gerakan HT semakin menurun. Pamornya memang kalah dibanding gerakan lainnya. Namun, Taqiyuddin tampaknya bersikukuh dengan garis politiknya untuk bergerak secara non-kooperasi dengan kekuatan yang menggunakan instrumen Barat. Hal ini karena HT memandang bahwa metode perjuangan tidak boleh dikompromikan.

Sifat radikalisme gagasan tersebut, karena dalam doktrin HT, penerapan syariah tidak bisa dilakukan secara bertahap. Abdul Qodim Zallum, pengganti Taqiyuddin, menyebutkan bahwa  penerapan syariah harus bersifat menyeluruh dan sekaligus (one for all). Dengan mengutip beberapa hadist, Zallum berpendapat bahwa memerangi penguasa kufur adalah kewajiban. Penguasa kufur diidentifikasi adalah mereka yang tidak menerapkan hukum Islam atau hanya menerapkan sebagian. Semua itu hajib diperangi dengan mengangkat senjata.

Meskipun gerakan HT terkonsentrasi di Yordania, Palestina dan Siria, melalui kader-kadernya, gagasan kekhalifahan ternyata mulai mendapat tempat di sejumlah negara. Pola persebarannya terutama melalui kampus-kampus. Pada bulan April 1967, HT telah beroperasi di Turki melalui sejumlah mahasiswa Jordan yang kuliah di Universitas Ankara. Gerakan ini mampu menarik minat mahasiswa dan akademisi Turki, termasuk Ali Nihat Eskioge, seorang astronom. Tokoh penting lainnya adalah Annan Mohammad Ali dan Amir Ercumend. Mereka secara terbuka telah berani menyebarkan pamflet yang berisi seruan menghidupkan kembali kekhalifahan. Akan tetapi, dengan segera gerakan ini ditekan oleh militer. Dan para pemimpinnya di tahan pada tahun 1967. Sejak saat itu, HT Turki kembali memasuki kehidupan clandstine. Kemunculannya kembali baru  terjadi pada tahun 1985 dan 1986 dengan mengedarkan pamflet, ”konstitusi HT”. Namun, sekali lagi, aksi ini harus menghadapi tekanan dan sekitar 42 orang anggota HT harus ditahan. Termasuk Ahmad Kilikaya, salah satu tokoh penting HT Turki. Pemerintah Turki tampaknya terus memburu para pemimpin HT. Pada tahun 2001, Remzi Ozer, pemimpin HT dipenjarakan. Selanjutnya  pada Mei 2003, Emir Yilmaz Celik dan 93 pengikutnya harus pula dipenjarakan.

Dalam masa kepemimpinan Taqiyuddin, perkembangan gerakan HT memang tidak sepesat IM. Namun, sel-sel gerakan ini pada dasarnya telah menyebar di sejumlah negara Timur Tengah, Asia Tengah, hingga Eropa. Sekarang ini,  HT mengklaim telah tumbuh di sekitar 40 negara. Setelah Taqiyudin meninggal pada tahun 1977, HT dipimpin oleh Abdul Qodim Zallum, tokoh HT yang berasal dari Palestina. Kepemimpinannya berlangsung hingga 2003. Setelah Zallum meninggal pada 2003, komando HT dipegang oleh Ata Ibnu Khalil Abu Rashta, alias Abu Yasin. Dia adalah orang Palestina yang  sebelumnya telah menjadi jurubicara HT Yordan. Diyakini, Abu Rashta sekarang mengendalikan HT dari The West Bank. Abu Rashta didampingi oleh Khaled Hassan, pendiri organisasi Fatah (salah satu faksi yang tergabung dalam Palestine Liberation Organization) dan tokoh spritual HT yaitu Sheikh Asaad Tamimi.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html