header2

Jumat, 28 April 2017

JAM'IYYAH

Malam ini adalah jadwal jami’yahan pertama setelah satu setangah bulan yang lalu libur karena bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sudah menjadi kesepakatan anggota jam’iyah bahwa setelah libur Ramadhan kegiatan jam’iyahan akan dimulai kembali dua minggu setelah lebaran. Dan mengawali dimulainya kegiatan rutin mingguan ini Lek Kirman ketibanjadwal untuk ketempatan.
Tak seperti adatnya dimana para anggota seringkali datang sedikit lebih malam, kali ini saat jam menunjukkan pukul delapan lebih dari dua pertiga dari mereka telah hadir duduk bersila di rumah Lek Kirman. Mungkin karena ini yang pertama dan libur yang cukup lama membuat mereka kangen dengan kegiatan ini.
Di antara mereka juga terlihat beberapa wajah baru yang sebelumnya belum pernah ikut jam’iyahan. Di antaranya ada Mas Kusno yang katanya kini tak lagi berangkat ke Jakarta untuk jualan warteg. Mau buka warung di desa saja, katanya. Juga ada Kang Dukri, pedagang siomay keliling. Mestinya ia sudah sejak lama ingin mengikuti jam’iyahan, namun anak kecilnya yang saat itu belum berumur tiga tahun masih rewel-rewelnya hingga membuat Kang Dukri tak tega membiarkan istrinya sendirian kewalahan mengurusnya. Duduk di pojok sana, di sebelah kanan Pakde Harto, ada Mas Ruslan, pemuda dari Pemalang yang baru seminggu lalu sah menjadi menantu Lek Kapali dan kini menjadi warga kampung Kang Basyir.
Jam di dinding ruang tamu Lek Kirman menunjukkan pukul delapan seperempat malam. Jamaah yang hadir makin banyak. Mas Zaenul, sang pembawa acara, mengedarkan pandangannya. Ia seperti ingin menghitung atau memastikan sudah sebagian besar anggota hadir. Terakhir pandangannya berhenti pada Kang Basyir. Kang Basyir paham arti pandangan itu. Kepada Mas Zaenul ia anggukkan kepala, tanda jam’iyahan bisa dimulai.
Maka… “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…..” dan bla bla bla… Mas Zaenul membuka dan memulai kegiatan malam itu. Didahului dengan pembacaan surat al-fatihah sebagai pembuka, dzikir tahlil dengan bacaan shalawat sebanyak tiga ratus kali[1] yang kali ini dipimpin oleh Mbah Kasanun, lalu makan ketupat bersama dan wedangan sejenak sebelum akhirnya ditutup dengan uraian hikmah oleh Kang Basyir.
“Saya ucapkan selamat datang kepada para sedulur yang baru bergabung di jam’iyah ini.” Kang Basyir menyampaikan setelah sebelumnya menuturkan kalimat-kalimat pembuka.
Dengan kalimat yang runtut dan diucapkan dengan tenang, sambil sesekali mengedarkan pandangannya ke semua yang hadir, ia melanjutkan bicaranya, “Ber-jam’iyahan itu penting. Tidak hanya memberi manfaat ruhaniyah kepada diri kita masing-masing, bersilaturahmi dengan sesama warga, tapi juga berjam’iyahan memberi manfaat mengokohkan negara kita, negara Indonesia, dan juga menjadikan Islam tetap tegak di dunia.”
Sampai di sini beberapa jamaah nampak mengarahkan pandangannya kepada Kang Basyir. Mimik muka mereka menunjukkan ada ketertarikan pada kalimat yang baru saja diucapkan pembina jam’iyah itu.
“Mengaapa saya katakan demikian?” lanjut Kang Basyir dengan nada tanya yang kemudian ia jawab sendiri. “saya teringat sebuah wejangan dari guru saya yang disampaikan sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Saat di pesantren, pada malam Selasa ba’da maghrib setelah kegiatan mujahadah pembacaan shalawatNariyah, Kyai Rozaq, guru saya itu, memberikan informasi begini; bahwa kekuatan Islam di dunia ini ada di Indonesia. Maka bagi mereka yang tak menyukai Islam, untuk menghancurkan Islam di dunia ini bukan dengan menghancurkan negara-negara Arab yang nota bene menjadi basis dan awal mula tumbuhnya Islam, tetapi dengan menghancurkan Indonesia. Negara-negara Timur Tengah boleh saja terjadi banyak konflik, pecah, terjadi perang sesama umat muslim. Tetapi Islam akan tetap berjaya bila Indonesia masih berdiri tegak.
Nah, untuk menghancurkan Indonesia bukan dengan mengirim pasukan perang sebagaimana masa penjajahan dahulu. Tetapi dengan melemahkan dan menghancurkan sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama, NU. Mengapa demikian? Ya, sebab NU adalah kekuatan besar yang membentengi Indonesia. Dalam sejarah telah terbukti bahwa lapisan masyarakat yang gigih melawan penjajah di Indonesia adalah kaum santri yang digerakkan oleh para kyai pengasuh pesantren yang nota bene bersatu dalam organisasi NU.”
Sampai di sini Kang Basyir sejenak berhenti. Ia mengambil gelas berisi air teh yang ada di depannya untuk kemudian sedikit meminumnya. Sementara jamaah yang ada masih menujukkan perhatiannya pada Kang Basyir.
“Lalu bagaimana untuk melemahkan dan menghancurkan NU?” lanjut Kang Basyir, masih dengan kalimat yang tenang dan intonasi yang mantab. “Dengan membubarkannya? Menjadikannya sebagai organisasi terlarang? Tidak. NU bisa saja dan boleh saja dilarang dan dibubarkan. Tetapi selama ruhnya masih hidup jiwa NU tak akan pernah mati. Lalu apa ruhnya NU? Ruhnya NU ada di kegiatan jam’iyahan-jam’iyahan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah-daerah. Jam’iyahan rutinan tiap hari tertentu, tahlilan, tebus weteng, barzanji-nan, diba’-an, haul, manaqiban, dan kegiatan semisal lainnya di situlah ruhnya NU. Selama itu semua masih dilestarikan di Indonesia maka NU akan tetap hidup. Dan selama NU tetap hidup Negara Indonesia akan tetap berdiri dengan kokoh.”
“Itulah sebabnya di awal saya katakan bahwa mengikuti jam’iyahan bukan saja memenuhi kebutuhan ruhaniyah kita tetapi juga ikut dalam usaha tetap kokohnya Negara Indonesia.”
Sebagian jamaah terlihat ada yang menganggukkan kepalanya, mungkin dapat memahami penjelasan Kang Basyir. Sebagian lagi masih pada posisinya. Kang Basyir tak segera melanjutkan kalimatnya. Apa yang barusan disampaikan ia biarkan mengendap lebih dahulu di hati para jamaah untuk dapat dipahami dengan baik.
“Lalu,” lanjutnya, ”apa yang akan dilakukan oleh mereka untuk menghancurkan Islam?”
Lagi-lagi Kang Basyir berhenti sejenak sebelum kemudian menjawab sendiri pertanyaannya.
“Yang akan dilakukan oleh mereka untuk menghancurkan Islam adalah dengan perang akidah. Mereka akan menggunakan sesama umat Islam yang berseberangan pemahaman agamanya dengan umat Islam yang ada di Indonesia sebagai alat untuk memecah belah umat Islam. Melalui akidah umat Islam yang dijadikan alat itu akan menebarkan isu dengan mengatakan bahwa ritual yang selama ini kaprah berjalan di Indonesia adalah amalan-amalan bid’ah yang sama sekali tak ada dasarnya baik dari al-Qur’an maupun hadis. Efek yang akan terjadi dari isu ini adalah terjadinya gesekan di antara umat Islam Indonesia yang tidak dipungkiri pada saatnya nanti akan terjadi bentrok fisik. Bila ini benar-benar terjadi maka goyahlah stabilitas nasional negeri ini, rapuh keamanannya, dan pada akhirnya akan dengan mudah bangsa ini dirobohkan. Dan, bila bangsa Indonesia yang besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini roboh, roboh pula Islam di dunia ini.”
“Bagaimana tidak? Negeri-negeri muslim di Timur Tengah telah dan sedang dilemahkan dengan banyak konflik dan kekacauan. Bila Indonesia yang besar ini juga telah dibuat demikian, di negeri yang mana lagi Islam berdiri kuat?”
Kang Basyir menghentikan kalimatnya. Ia mengambil nafas kuat-kuat untuk kemudian perlahan ia hembuskan. Sejenak suasana hening. Terlihat Pakde Harto mengambil gelas di depannya dan meminumnya beberapa teguk.
“Boleh menyela, Kang?” suara Mas Dayat meminta ijin untuk bicara.
Monggo, silakan,” jawab Kang Basyir.
“Begini, Kang. Bila benar apa yang sampeyan jelaskan itu dari guru sampeyandua puluh lima tahun yang lalu, maka rasa-rasanya hal itu sedang terjadi sekarang ini.”
“Ya, kurasa demikian.” Kang Basyir menimpali cepat. “Saat ini bisa kita lihat sendiri betapa sebagian saudara kita dengan mudahnya menuduh dan menuding-nuding bahwa tahlilan, ratiban, manaqiban, maulidan dan lainnya adalah perbuatan bid’ah, khurafat, syirik, bahkan pelakunya dikafirkan. Ini untuk amalannya. Sedangkan untuk organisasinya bisa kita saksikan betapa NU saat ini sering dikuya-kuya karena ia-lah satu-satunya organisasi keagamaan di Indonesia yang melestarikan amalan-amalan itu. Sikap NU yang menjunjung prinsip tawasuth, tawazun, dan tasamuh dalam banyak hal juga menjadikannya dipandang sebelah mata dan dicemooh mereka yang berseberangan. Bila ini terus terjadi maka bukannya tak mungkin akan terjadi konflik horizontal sesama umat Islam di Indonesia. Dan, terjadilah apa yang sekarang menimpa Timur Tengah.”
“Kang Basyir,” Pakde Harto menyela. “Saya bisa memahami apa yang sampeyansampaikan itu. Tapi satu hal yang ingin saya tanyakan, apa kaitannya jam’iyahan dengan kuatnya Negara Indonesia?”
Kang Basyir tak lekas menjawab. Sejenak ia berdiam kemudian berkata, “Saya sendiri belum pernah menanyakan hal itu kepada guru saya. Namun bila kita mengkaji banyak keterangan dari banyak kitab kurasa akan ada kesimpulan yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan Pakde Harto.”
“Begini. Dalam kegiatan jam’iyahan pada umumnya yang dilakukan oleh jamaahnya adalah berdzikir dengan membaca berbagai kalimat thayibah. Saya ambil contoh shalawat dan istighfar. Dalam banyak kitab dapat kita peroleh keterangan bahwa barang siapa yang membaca shalawat kepada nabi satu kali maka Allah akan memberinya sepuluh rahmat.[2] Bila dalam satu jam’iyahan ada tiga puluh jamaah saja yang masing-masing membaca shalawat seratus kali, itu artinya akan ada tiga puluh ribu rahmat yang diturunkan Allah pada saat itu di daerah itu. Lah, bila pada saat yang bersamaan dalam satu desa ada sekian jam’iyahan, maka berapa ratus ribu atau bahkan berapa juta rahmat yang Allah curahkan di desa itu? Satu rahmat Allah saja sudah sedemikian agung, lah ini ribuan bahkan jutaan? Bila pada saat yang bersamaan pula hal itu terjadi di desa yang lain, di kecamatan, kabupaten, provinsi, dan seluruh Indonesia? Ini baru dalam satu hari atau satu malam. Bila di hari dan malam yang lain juga ada jam’iyahan yang melakukan demikian? Ini juga baru yang dilakukan oleh sekolompok orang yang tergabung dalam jam’iyah, belum bacaan shalawat yang diwiridkan secara rutin oleh orang-orang secara pribadi setiap hari dalam jumlah yang banyak. Belum juga yang diwiridkan oleh para kyai dengan para santrinya di pesantren-pesantren.
Bila setiap hari bangsa ini dicurahi berjuta rahmat Allah, dapat kita bayangkan laksana hujan yang membawa keberkahan, maka suburlah tanahnya, aman tentram kehidupannya, makmur dan sejahtera masyarakatnya. Dan bila kemudian semua itu berhenti karena amalannya dianggap bid’ah yang tak berdasar, keringlah negeri ini, karena sepi dari curahan rahmat kasih sayang Allah.
Ini baru dari satu sisi manfaat shalawat, belum manfaat yang lainnya. Lalu bagaimana dengan istighfar?
Untuk istighfar kurasa cukuplah apa yang dikatakan Allah dalam dua ayat-Nya. Yang pertama, Allah menyatakan bahwa Dia tak akan menurunkan azabnya kepada sebuah kaum selama kaum itu selalu beristghfar meminta ampun kepada Allah.[3] Seperti shalawat yang tadi saya jelaskan, bila setiap hari istighfar ini dibaca ribuan bahkan jutaan kali oleh masyarakat Indonesia secara bergantian, baik dalam jam’iyahan ataupun secara pribadi, bukankah ini akan mencegah datangnya siksa Allah? Bukankah ini berarti menenteramkan hidup dan kehidupan bangsa ini?
Yang kedua, dalam al-Qur’an Allah juga mengajarkan bahwa dengan membaca istighfar maka Allah akan mengirimkan rahmat-Nya dari langit berupa air hujan yang menjadikan bumi ini subur, memberikan limpahan rizki dan generasi, serta menjadikan kebun-kebun dengan banyak buahnya dan sungai yang mengalir untuk memenuhi banyak kebutuhan.[4] Maka, bukankah itu semua yang membuat negeri ini dikenal dengan kalimat gemah ripah loh jenawi tata tentrem karta raharja?”
Ini baru sebagian manfaat dari dua bacaan yang biasa diwiridkan dalam jam’iyahan dan oleh orang per orang secara pribadi. Belum manfaat lain dari kalimat-kalimat lainnya.
Lah, bila semua itu dihentikan? Bila tak ada lagi jam’iyahan? Bila tak ada lagi orang per orang yang merutinkan berwirid di siang dan malam hari karena dianggap bid’ah dan bahkan pelakunya dikafirkan? Sungguh, tak dapat kita bayangkan bila semua manfaat itu dihentikan oleh Allah untuk negeri Indonesia ini.
Maka sekali lagi saya sampaikan, selamat datang kepada para sedulur yang baru saja bergabung di jam’iyahan ini. Selamat bergabung untuk membangun dan mengukuh-kokohkan negeri ini dengan amalan jam’iyahan. Sungguh, ini langkah nyata yang bisa kita berikan untuk negeri dan bangsa kita sendiri, yang juga demi tegaknya agama Islam di dunia ini. Dari pada hanya sekedar membully, mencaci, dan memfitnah para pemimpin negeri, tanpa memberi solusi.”
Kang Basyir mengakhiri uraiannya malam ini. Namun sebelum ia menutupnya dengan salam satu hal lagi yang ia sampaiakan kepada jamaah, “Menurut guru saya, masih ada satu lagi cara mereka merubuhkan Islam di dunia ini. Akan saya sampaikan itu pada kesempatan yang lain. Insya Allah. Wassalaamu ‘alaikum….”
Mas Zaenul mengambil microphone dari tangan Kang Basyir, lalu menutup jam’iyahan malam itu dengan bacaan shalawat; sholluu ‘alan nabi Muhammad!
                                                                   


[1] Menurut Abu Thalib al-Makky paling sedikitnya memperbanyak bacaan shalawat adalah tiga ratus kali. Sedangkan menurut Imam As-Sya’rony tujuh ratus kali pada siang hari dan tujuh ratus kali pada malam hari. Sedangkan ulama lainnya mengatakan tiga ratus lima puluh kali setiap hari dan tiga ratus lima puluh kali setiap malam. (Sa’aadatud Daaroin, Yusuf an-Nabhany, hal. 62.)
[2] Al-Adzkaar, Yahya bin Syaraf an-Nawawy, hal. 128
[3] QS. Al-Anfal: 33
[4] QS. Nuh: 11-12. Tafsir Al-Muniir, Dr. Wahbah Zuhaili, jil. 15, juz. 29, hal. 154

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html